Monday, May 5, 2008

Insya Allah Kukuh di Manhaj Salaf

Untuk istri dan anak-anakku, aku cukupkan pencarian manhaj (metodologi) dalam memahami islam. Cukuplah mengeksplorasi islam dengan pisau bedah salafy. Gunakan nalar untuk memahami dalil yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan ulama-ulama shalih sebelumnya (salafush shalih).

Pasang surut pencarian makna kehidupan dimulai dari keluarga yang memiliki pemahaman yang berbeda. Almarhum ayah saya lebih cenderung ke pemahaman Muhammadiyah, sementara ibu dibesarkan dari keluarga yang mengamalkan ajaran Nadhlatul Ulama. Menamatkan Sekolah Dasar di Sekolah Islam dan sorenya khusus mengikuti pelajaran agama islam di madrasah. Setelah itu, melanjutkan pendidikan umum sampai jenjang master. Setelah menyelesaikan program S2 di keilmuan umum, ada kehampaan di diri saya. Yang biasanya disibukkan dengan buku-buku literatur, tugas-tugas akademis, persiapan makalah seminar, dll, tiba-tiba lenyap. Sulit untuk merubah ritme waktu yang sebelumnya sudah tersetup secara alamiah. Untuk mengisi kekosongan tersebut, saya mencoba mengalihkan dengan banyak membaca literatur-literatur umum dan agama, menghadiri dan menjadi pembicara di seminar-seminar, dan ikut di organisasi kajian-kajian islam, hingga akhirnya insya allah telah dibukakan hidayah untuk menemukan alfirqatun najiyah (jalan orang-orang yang selamat).


Dekat dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat).

Faktor lingkungan menyeret saya ke pemahaman islam yang lebih berorientasi kepada TBC. Tak bisa disanggah bahwa realitas sosial budaya di Indonesia menunjukkan bahwa proses penyebaran agama islam di Indonesia adalah melalui proses asimilasi dengan aliran-aliran lain. Semakin bertambahnya umur yang tentunya berimplikasi kepada peningkatan kapasitas otak dalam mencerna, semakin saya merasa bahwa bukan pemahaman islam seperti ini yang saya inginkan. Sulit bagi saya untuk bisa memahami syariat-syariat yang tidak masuk akal, ibadah-ibadah yang tidak mengacu kepada dalil-dalil yang sahih, ritual-ritual yang berasal dari mimpi-mimpi para ulama, dan ajaran-ajaran yang dilesakkan oleh para kyai dengan hanya mengacu pada satu kitab yang ”katanya” bersandar kepada mazhab Imam Syafii, namun saat dicek dengan literatur lain yang lebih sahih ternyata Imam Syafii tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Inilah titik awal timbulnya keinginan untuk mempelajari manhaj (metodologi) yang lurus, benar, bisa dicerna akal dan tidak menimbulkan keraguan.


Bersentuhan dengan pemahaman Liberal.

Lingkungan pergaulan di Jakarta ditambah dengan maraknya buku-buku liberal memancing keingintahuan saya. Luar biasa !!! Itulah komentar pertama saya terhadap buku-buku liberal, darinya saya menemukan pemahaman baru yang menarik. Bahkan saya saat itu memfasilitasi untuk mengundang Almarhum Nurcholish Madjid untuk menjadi pembicara di acara Lustrum di kampus saya. Kurang lebih sampai 3 tahun saya tenggelam di pemahaman liberal dengan banyak membaca buku-bukunya. Beberapa buku-buku yang saat itu sangat saya kagumi, antara lain ’Menafsirkan kehendak Tuhan’, ’Pintu-Pintu menuju surga’, ’Hermeunetika Al Qur’an’, ’Doktrin Islam Liberal’, dll, disamping majalah-majalah, kajian-kajian dan literatur-literatur liberal (Semuanya telah saya robek-robek dan musnahkan karena khawatir akan terbaca oleh orang lain). Jujur saja, bahasa yang dipergunakan sangatlah indah, terstruktur, metodologis, dan masuk akal. Namun semakin jauh saya menyelam, semakin jauh saya mengeksplorasi, dan semakin jauh saya mencoba mencari esensinya, semakin pula saya merasa banyak kejanggalan-kejanggalan dan tidak mendapatkan apa-apa. Tak ada yang sesuatu baru, kecuali hal-hal yang lama diwacana ulang dengan pemahaman baru yang relatif, demikian seterusnya seolah-olah pemahaman tidaklah pernah berujung, melainkan dibatasi oleh ruang situasi dan waktu yang kontemporer.

Mengikuti pengajian dengan pemahaman khilafah.

Pemahaman tentang perlunya khilafah adalah tesis segar yang mengurai kemunduran umat islam dengan bukti-bukti empiris bahwa penyebabnya adalah sistem kapitalisme yang saat ini menguasai dunia. Tidak terbantahkan bahwa perlunya sistem alternatif yang tidak mengekor kepada mainstream, yaitu melalui sistem islam dan adanya khilafah yang akan menjamin syariat islam akan tetap ditegakkan. Namun kembali kejenuhan melanda, selama saya mengikuti pengajian ini tidak pernah secara jelas atau bahkan tersamar sekalipun solusi yang ditawarkan, kecuali solusi tunggal perlunya khilafah. Akhirnya saya meninggalkan pengajian ini karena saat kajian seringkali diisi dengan pembangkangan dan hujatan terhadap pemerintah, anjuran untuk berdemo, dan saya merasa bahwa tidak ada perubahan pada akidah dan keimanan saya.

Kembali ke musholla.

Kembali ke musholla di dekat rumah saya untuk mengikuti shalat berjamaah dan kajian-kajian islam. Saya terus berusaha untuk konsisten menjalankan shalat Maghrib, Isya dan Subuh berjamaah di musholla meskipun ada beberapa benturan pemahaman, terutama yang berkaitan dengan pemahaman jihad, yang menurut saya berlebihan. Pada saat itu di Indonesia marak pengeboman atas nama islam. Sulit bagi nalar saya untuk menerima dalam setiap diskusi dengan orang yang menyetujui tindakan mereka dengan dalih jihad terhadap kesombongan barat namun yang menjadi korban adalah orang-orang islam juga. Pintu hidayah akhirnya terbuka di musholla ini. Dimulai dengan pengisian majelis ilmu oleh ustadz baru dengan manhaj salaf. Kesederhanaannya menutupi saratnya ilmu yang dia miliki. Di awal-awal kajian, saya (dan juga jamaah yang lain) menanyakan berbagai macam permasalahan dari berbagai variasi pemahaman jamaah saat itu. Ketenangannya dalam menjawab dengan dilandasi oleh dalil-dalil yang sahih sehingga nalar mampu mencerna dan menerima pendekatannya. Semakin sering mengikuti kajian-kajiannya, semakin saya merasakan kenyamanan dalam beribadah, semakin yakin dengan jalan yang saya tempuh, dan semakin nalar ini menerima metodologinya dalam memahami islam. Akal dioptimalkan untuk membenarkan dalil melalui manhaj (metodologi) salaf, yaitu memahami dalil yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan ulama-ulama shalih sebelumnya (salafush shalih). Metodologi yang sangat sulit untuk terbantahkan dari sisi akademis metodologi penelitian ilmiah.

Beragam Reaksi.

Beragam reaksi bagi dari kerabat maupun teman saya saat saya katakan bahwa pencarian saya terhadap manhaj (metodologi) dalam memahami islam sudah final. Beberapa pertanyaan dan argumentasi yang mereka sampaikan, antara lain :

Saya telah mendoktrin keluarga saya secara kaku, tidak memberi ruang kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya, tidak mencoba memberikan ruang komparasi terhadap pemahaman lain, dan menyesalkan arogansi saya bahwa kebenaran seolah-olah hanya kepada pemahaman yang ada di benak saya sekarang. Saya jawab bahwa saya ingin memberikan pemahaman yang benar terhadap keluarga saya terlebih dahulu sebelum masuk ke lingkungan yang lebih luas, karena saya menginginkan paling tidak di lingkungan keluarga saya selamat dari ancaman siksa neraka. Saya ingin menggiring mereka ke jalan yang orang-orang yang selamat (firqatun najiyah). Saya katakan tidak benar bahwa saya membatasi argumentasi, tidak benar bahwa saya arogan merasa benar sendiri, dan tidak benar pula bahwa saya merasa bahwa sayalah yang menentukan jalan yang harus mereka ambil. Kewajiban saya untuk mempersiapkan koridor awal sebagai benteng akidah mereka ketimbang mereka harus liar mencari-cari pemahaman tanpa modal pemahaman sebelumnya. Saya katakan kepada teman-teman saya yang liberal, bahwa bohong besar kalau dikatakan bahwa harus melepaskan atribut-atribut tertentu agar keluarga bisa mensintesis suatu kebenaran yang hakiki (kalaupun benar hanya ada di teori yang tidak pernah terbukti di dunia nyata). Yang saya lakukan adalah hal yang manusiawi, dimana insting semua manusia akan melakukan hal yang sama dengan saya.

Saya telah mendoktrin keluarga dengan surga dan neraka. Penyair-penyair sufi menyatakan bahwa jika ”surga dan neraka tak pernah ada, apakah kita akan tetap bersujud padanya”. Saya katakan ya, karena saya tidak akan menafikan banyaknya ayat-ayat Al Qur’an yang terkait dengan surga dan neraka, dan surga dan neraka sudah pasti ada. Jadi tidaklah produktif kita berdebat dengan mengandaikan bahwa surga dan neraka tidak ada. Kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah sebagai manifestasi dari penghambaan kita yang dhaif. Hak kita untuk mendapatkan surga setelah menjalankan kewajiban yang disyariatkan.

Adalah hak Allah untuk menentukan mana yang hak dan mana yang batil, sehingga kita tidak bisa mengklaim diri sebagai yang paling benar. Saya katakan ya, namun Allah juga telah menetapkan koridor-koridornya. Untuk itulah Allah menurunkan nabi untuk membuat standarisasi syariat yang harus dipatuhi oleh manusia yang mengaku muslim. Namun sulit pula untuk dipungkiri bahwa seringkali terjadi salah paham terhadap hal ini sehingga seringkali muncul pertanyaan yang terkadang konyol padahal sebenarnya mencerminkan kualitas kelimuannya. Sebagai contoh, pertanyaan tentang pemahaman masalah bid’ah sebagai berikut : Kalau begitu kita sekarang naik haji harus naik unta karena naik pesawat adalah bid’ah karena tidak pernah dilakukan oleh nabi. Pertanyaan tersebut jelas mencerminkan ketidaktahuan dalam membedakan hal-hal yang terkait dengan ibadah dan muamalah.

Saya menafikan penafsiran yang mestinya berkembang dinamis, dan berusaha kembali ke kehidupan di jaman lampau. Saya katakan penafsiran (penakwilan) menjadi liar tanpa mempertimbangkan bagaimana ulama-ulama shalih sebelumnya membuat penafsiran. Lebih pintar atau lebih tahukah kita yang hidup sekarang ini ketimbang mereka sehingga membuat penafsiran baru yang letterlux dari ayat Al Qur’an tanpa melihat bagaimana Sunnah dan sebab-sebab turunnya ayat tersebut. Saya akan menggunakan referensi dan pendapat Ibnu Taimiyah, imam empat mazhab, Syeikh Nasiruddin Al Albany, Syeikh Utsaimin, Syeikh Bin Baz, dan ulama-ulama salafy di seluruh dunia. Sebaliknya, saya tidak akan menjadikan referensi pendapat-pendapat Fazlur Rahman, Muhammad Abduh, Nurcholish Madjid, Ulil Abshar Abdalla, Abdurrahman Wahid, pendapat-pendapat yang ingkar sunnah, dan pendapat-pendapat yang muncul karena penakwilan.

Wallahu alam bish shawab.