Tuesday, May 15, 2007

Kisah Sebuah Sumur

Di kampung saya ada sebuah sumur tua yang tertimbun tanah dan ditanami sebuah pohon pisang yang batang dan akarnya didalam sumur sementara daunnya menjulur ke luar mulut sumur. Lebaran tahun lalu, pada saat pulang kampung saya, anak saya yang pertama umur 5 tahun, dan beberapa keponakan yang sebaya dengan anak saya mengunjungi sumur itu.

Sebelum menceritakan kisah sumur itu, saya bertanya kepada anak dan keponakan saya. Apa kira-kira maksud dibuatnya sumur dan kenapa sumur itu tertimbun tanah dan ditanami pohon pisang. Jawaban dari mereka bervariasi,

Jawaban untuk maksud dibuatnya sumur :
  1. Untuk air minum
  2. Untuk mandi dan mencuci
  3. Untuk menyiram tumbuh-tumbuhan
  4. Untuk piara ikan
  5. dan lain-lain

Jawaban untuk kenapa sumur itu tertimbun :

  1. Sumur kering
  2. Supaya bisa menanam pohon pisang (maklum jawaban anak-anak)
  3. Sumur ada setannya (Untuk jawaban ini, saya tegaskan bahwa setan bisa ada dimana-mana. Kalau dia ada di sumur itu, maka dia sedang istirahat dari tugasnya menggoda manusia. Intinya adalah bahwa setan tidak akan tertarik untuk mendiami tempat seperti itu, mereka lebih menyukai tugasnya untuk menjerumuskan manusia)
  4. Ada monster (kebanyakan nonton film kartun kayaknya)
  5. dan lain-lain

Setelah mereka keluarkan semua jawaban berdasarkan kemampuannya berfikir, analisis lingkungan sekitarnya, atau hanya sekedar menjawab, saya katakan bahwa sayapun dikasih tahu oleh ayah saya bahwa sumur itu dibuat dan digunakan untuk mengubur orang-orang PKI.

Kisah ini adalah salah satu contoh bahwa untuk mengetahui sesuatu, kita tidak bisa dengan hanya mengandalkan logika. Mengetahui dari orang yang langsung berinteraksi dengan kejadian tersebut tentunya akan lebih valid.

Saya coba analogikan, kita akan lebih mendapatkan akurasi dalam memahami islam jika kita mendapatkan langsung informasi itu dari orang-orang generasi pertama, yaitu yang berinteraksi langsung dengan Nabi Muhammad SAW, kemudian generasi kedua yang berinteraksi dengan generasi pertama, dst, dst. Prasyaratnya adalah kejujuran dalam menyampaikan kabar berita. Alhamdulillah, bahwa ulama-ulama terdahulu telah menetapkan kriteria yang ketat untuk menyaring kabar berita, sehingga tingkatan sahih diberikan kepada hadist-hadist yang lolos penyaringan.

Adalah pilihan bagi kita untuk menentukan metodologi apa yang akan digunakan untuk memahami teks dalam islam. Apakah melalui riwayat-riwayat yang benar dan bisa dipercaya, ataukah dengan menerjemahkan teks dalam konteks kekinian dengan menyatakan bahwa setiap kejadian terikat dengan konteks zaman tertentu.

Wallahu alam bisshawab.