<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971</id><updated>2011-04-21T18:21:42.445-07:00</updated><title type='text'>Refleksi</title><subtitle type='html'>Menggunakan ilmu dalam mengkonstruksi firman Allah dan Sunnah Nabi melalui pemahaman para  sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan ulama-ulama shalih sebelumnya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971.post-3832100710412044439</id><published>2008-05-28T08:47:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T08:48:49.993-07:00</updated><title type='text'>Demonstrasi bukan Metode Salafush Shaleh</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demonstrasi bukan Metode Salafush Shaleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Oleh: Al-Ustadz Zuhair Syarif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan: “Aksi unjuk rasa ini dipelopori oleh oknum-oknum.” Adapula yang berkomentar: “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau mengompori.” Sedangkan yang lain berkata: “Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Namun dalam tulisan ini kita tidak menilai mana pendapat pengamat yang benar dan mana yang salah. Tetapi kita berbicara dari sisi apakah demonstrasi ini bisa digunakan sebagai sarana/alat dakwah kepada pemerintah atau tidak? Atau apakah tindakan ini bisa dikatakan sebagai jihad[1]? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;DEMONSTRASI PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kasus terbunuhnya Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu dan timbulnya pemikiran Khawarij sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Utsman radliyallahu ‘anhu adalah berawal dari isu-isu tentang kejelekan Khalifah Utsaman yang disebarkan oleh ‘Abdullah bin Saba’ di kalangan kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam[2]. Sedangkan kita telah maklum bagaimana karakter Yahudi, karena Allah berfirman:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Niscaya engkau akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maidah: 82)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Permusuhan kaum Yahudi terlihat sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati janji mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, merendahkan kaum Muslimin, mencerca ajaran Islam, dan banyak lagi (makar-makar busuk mereka). Setelah Islam kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 3 halaman 191 dan 199)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada zaman Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma, suara orang-orang Yahudi nyaris hilang. Bahkan Umar mengusir mereka dari Jazirah Arab sebagai realisasi perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang pernah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Sungguh akan aku keluarkan orang-orang Yahudi dan Nashara dari Jazirah Arab sampai aku tidak sisakan padanya kecuali orang Muslim.” Juga Ucapan beliau: “Keluarkanlah orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab.” (HR. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Di tahun-tahun terakhir kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anhu di saat kondisi masyarakat mulai heterogen, banyak muallaf dan orang awam yang tidak mendalam keimanannya, mulailah orang-orang Yahudi mengambil kesempatan untuk mengobarkan fitnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Mereka berpenampilan sebagai muslim dan di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ yang dijukuli Ibnu Sauda. Orang yang berasal dari Shan’a ini menebarkan benih-benih fitnah di kalangan Muslimin agar mereka iri dan benci kepada Utsman Radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran pribadinya yang bernafaskan Yahudi. Contohnya adalah qiyas-nya yang bathil tentang kewalian Ali Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: “Sesungguhnya telah ada seribu Nabi dan setiap Nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali walinya Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam.” Kemudian dia berkata lagi: “Muhammad adalah penutup para Nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tatkala tertanam pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan pokoknya yaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu. Maka dia melontarkan pernyataan pada masyarakat yang bunyinya: “Siapa yang lebih dhalim daripada orang yang tidak pantas mendapatkan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (kewalian Rasul), kemudian dia melampaui wali Rasulullah (yaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!” Setelah itu dia berkata: “Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian (pemerintahan)!” Setelah itu dia berkata: “Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedang wali Rasulullah ini (Ali) ada (di kalangan kalian). Maka bangkitlah kalian dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pejabat kalian tampakkan amar ma’ruf nahi munkar. Niscaya manusia serentak mendukung dan ajaklah mereka kepada perkara ini.” (Tarikh Ar Rasul juz 4 halaman 340 karya Ath Thabary melalui Mawaqif)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Amar ma’ruf nahi mungkar ala Saba’iyah ini sama modelnya dengan amar ma’ruf menurut Khawarij yakni keluar dari pemerintahan dan memberontak, memperingatkan kesalahan aparat pemerintahan di atas mimbar-mimbar, forum-forum, dan demonstasi-demonstasi yang semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Masalah pun bukan semakin reda, bahkan tambah menyala-nyala. Fakta sejarah telah membuktikan hal ini. Amar ma’ruf nahi mungkar ala Saba’iyah dan Khawarij ini mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu, peperangan sesama kaum Muslimin, dan terbukanya pintu fitnah dari zaman Khalifah Utsman sampai zaman kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu. (Tahqiq Mawaqif Ash Shahabati fil Fitnati min Riwayat Al Imam Ath Thabari wal Muhadditsin juz 2 halaman 342)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sebenarnya amar ma’ruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan tameng belaka. Buktinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepada Utsman:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Hai Utsman, nanti sepeninggalku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin mencelakakanmu pada waktu malam –dalam riwayat lain:– Orang-orang munafik ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. Beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya juz 6 halaman 75 dan At Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi 3/210 nomor 2923)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh Muhammad Amhazurn berkomentar: “Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang Khawarij tidaklah menuntut keadilan dan kebenaran akan tetapi mereka adalah kaum yang dihinggapi penyakit nifaq sehingga mereka bersembunyi dibalik tabir syiar perdamaian dan amar ma’ruf nahi mungkar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tidak diketahui di satu jamanpun adanya suatu jamaah atau kelompok yang lebih berbahaya bagi agama Islam dan kaum Muslimin daripada orang-orang munafik.” (Tahqiq Mawaqif Ash Shahabati juz 1 halaman 476)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Inilah hakikat amar ma’ruf nahi mungkar kaum Saba’iyah dan Khawarij. Alangkah serupanya kejadian dulu dan sekarang?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Di jaman ini ternyata ada Khawarij Gaya Baru yaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran Khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, unjuk rasa, dan sebagainya sebagai alat dan metode dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurrahman Abdul Khaliq yang mengatakan (Al Fushul minas Siyasah Asy Syar’iyyah halaman 31-32): “Termasuk metode atau cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sebelum kita membongkar kebathilan ucapan ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintahan, marilah kita pelajari manhaj Salafus Shalih dalam perkara ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;MANHAJ SALAFUS SHALIH BERAMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR KEPADA PEMERINTAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Allah adalah Dzat yang Maha adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya Dia akan menjadikan bagi rakyat yang durhaka seorang pemimoin yang zhalim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang zhalim, sesungguhnya kedhaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan (terhadap syariat) yang tidak mengakibatkan dia kufur dan keluar dari Islam maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasihati dengan cara yang sesuai dengan syariat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bukan dengan ucapan yang kasar lalu dilontarkan di tempat-tempat umum apalagi menyebarkan dan membuka aib pemerintah yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Adapun dasar memberikan nasihat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Al Khaitsami dalam Al Majma’ 5/229, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 2/522, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121. Riwayat ini banyak yang mendukungnya sehingga hadits ini kedudukannya shahih bukan hasan apalagi dlaif sebagaimana sebagian ulama mengatakannya. Demikian keterangan Syaikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim (lihat Muamalatul Hukam fi Dlauil Kitab Was Sunnah halaman 54).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Dzilalul Jannah fi Takhriji Sunnah 2/521-522. Hadits ini adalah pokok dasar dalam menasihati pemerintah. Orang yang menasihati jika sudah melaksanakan cara ini maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan pertanggungjawaban. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Barjas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bertolak dari hadits yang agung ini, para ulama Salaf berkata dan berbuat sesuai dengan kandungannya. Di antara mereka adalah Imam As Syaukani yang berkata: “Bagi orang-orang yang hendak menasihati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah –lantaran pemimpin itu telah berbuat salah– seharusnya ia tidak menampakkan kata-kata yang jelek di depan khalayak ramai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tetapi sebagaimana dalam hadits di atas bahwa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya kemudian menasihatinya tanpa merendahkan penguasa yang ditunjuk Allah. Kami telah menyebutkan pada awal kitab As Sair: Bahwasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedhalimannya sampai puncak kedhaliman apapun, selama mereka menegakkan shalat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits dalam masalah ini mutawatir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Akan tetapi wajib bagi makmur (rakyat) mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (As Sailul Jarar 4/556)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Imam Tirmidzi membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al Adawi. Beliau berkata: “Aku di samping Abu Bakrah berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis. Maka Abu Bilal[3] berkata: “Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Lantas Abu Bakrah berkata: “Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.’ ” (Sunan At Tirmidzi nomor 2224)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasihati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As Syaukani sampai pada perkataannya: “ … sesungguhnya menyelisihi pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkarinya di perkumpulan-perkumpulan masjid, selebaran-selebaran, tempat-tempat kajian, dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasihati. Oleh karena itu jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya walaupun timbul dari niat yang baik. Hal itu menyelisihi cara Salafus Shalih yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu.” (Maqasidul Islam halaman 395)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid bahwasanya beliau ditanya: “Mengapa engkau tidak menghadap Utsman untuk menasihatinya?” Maka jawab beliau: “Apakah kalian berpendapat semua nasihatku kepadanya harus diperdengarkan kepada kalian? Demi Allah, sungguh aku telah menasihatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini.” (HR. Bukhari 6/330 dan 13/48 Fathul Bari dan Muslim dalam Shahih-nya 4/2290)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh Al Albani mengomentari riwayat ini dengan ucapannya: “Yang beliau (Usamah bin Zaid) maksudkan adalah (tidak melakukannya, pent.) terang-terangan di hadapan khalayak ramai dalam mengingkari pemerintah. Karena pengingkaran terang-terangan bisa berakibat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagaimana pengingkaran secara terang-terangan kepada Utsman mengakibatkan kematian beliau[4].”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demikian metode atau manhaj Salaf dalam amar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintah atau orang yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang mengatakan bahwa demonstrasi termasuk cara untuk berdakwah sebagaimana yang dianggap oleh Abdurrahman Abdul Khaliq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab jeleknya sifat orang-orang Khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said bin Jahm beliau berkata: “Aku datang ke Abdullah bin Abu Aufa, beliau matanya buta, maka aku ucapkan salam.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Beliau bertanya kepadaku: “Siapa engkau?” “Said bin Jahman,” jawabku. Beliau bertanya: “Kenapa ayahmu?” Aku katakan: “Al Azariqah[5] telah membunuhnya.” Beliau berkata: “Semoga Allah melaknat Al Azariqah, semoga Allah melaknat Al Azariqah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa mereka anjing-anjing neraka.” Aku bertanya: “(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al Azariqah saja atau Khawarij semuanya?” Beliau menjawab: “Ya, Khawarij semuanya.” Aku katakan: “Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat kedhaliman kepada rakyatnya.” Maka beliau mengambil tanganku dan memegangnya dengan sangat kuat, kemudian berkata: “Celaka engkau wahai Ibnu Jahman, wajib atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a’dham. Jika engkau ingin pemerintah mau mendengar nasehatmu maka datangilah dan khabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 4/383)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan masih banyak lagi hadits-hadits mengenai celaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka karena perbuatan mereka sebagaimana telah dijelaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Oleh karena itu, bagi seorang Muslim yang masih mempunyai akal sehat, tidak mungkin dia akan rela dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (sebagai anjing-anjing neraka). Maka wajib bagi kita apabila hendak menasehati pemerintah, hendaklah dengan metode Salaf yang jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan bentrokan fisik antara rakyat (demonstran) dengan aparat pemerintah yang akhirnya membawa kerugian di kedua belah pihak atau munculnya tindak anarki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;DEMONSTRASI ATAU UNJUK RASA MERUPAKAN BENTUK TASYABUH (MENYERUPAI) ORANG-ORANG KAFIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sangat disayangkan, para demonstran ini mayoritas mereka adalah aktivis-aktivis Islam.Tetapi mengapa mereka melakukan hal ini ? mana ciri Islam mereka ? Atas dasar apa mereka melakukan hal-hal itu ? Apakah berdasarkan dalil ataukah berdasarkan syubhaat (kekaburan pemahaman) ? Mereka–Mahasiswa/rakyat yang beragama Islam– tidak sadar bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam, junjungan mereka, yaitu larangan menyerupai orang-orang kafir. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk kaum tersebut.” Malah demonstrasi ini termasuk bentuk tasyabuh terhadap orang kafir. Telah diterangkan oleh Syaikh Al Albani hafidhahullah tatkala seorang penanya menyampaikan pertanyaan kepada beliau yang lengkapnya demikian:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Penanya: “Apa hukumnya demonstrasi/unjuk rasa, misalnya para remaja, laki-laki maupun perempuan keluar ke jalan-jalan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh: “Para perempuan juga?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Penanya: “Benar. Sungguh ini telah terjadi!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh: “Masya Allah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Penanya: “Mereka keluar ke jalan-jalan dalam rangka menentang sebagian permasalahan yang dituntut atau diperintahkan oleh orang yang mereka anggap taghut-taghut, atau apa yang mereka tuntut dari organisasi/partai-partai politik yang bertentangan dengan mereka. Apa hukumnya perbuatan ini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Syaikh: [ Aku katakan --wabillahi taufiq--, jawaban dari soal ini termasuk pada kaidah dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radliyallahu 'anhu atau hadits Ibnu Umar radliyallahu 'anhu --saya ragu apakah beliau Abdullah bin ‘Amr atau Ibnu Umar-- ia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Aku diutus dengan pedang dekat sebelum hari kiamat sampai hingga hanya Allah-lah yang disembah, tidak ada sekutu baginya. Dan Allah menjadikan rizqiku di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka.” Yang dijadikan dalil dari ucapan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini adalah perkataan: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka tasyabuh (penyerupaan) seorang Muslim kepada seorang kafir tidak dibolehkan dalam Islam. Tasyabuh kepada seorang kafir ada beberapa tingkatan dari segi hukum. Yang tertinggi adalah haram dan yang terendah adalah makruh. Permasalahan ini sudah diterangkan secara rinci oleh Syaikhul Islam di dalam kitabnya yang agung, Iqtidla’ Shirathal Mustaqim Mukhalafata Ashabil Jahim secara rinci dan tidak akan didapat selain dari beliau rahimahullah. Aku ingin memperingatkan perkara yang lain, yang sepantasnya bagi Thalabul Ilmi memperhatikannya agar tidak menyangka bahwa hanya tasyabuh saja yang dilarang syariat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Ada perkara lain --yang lebih tersamar-- yaitu perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir. Tasyabuh kepada orang-orang kafir adalah menjalankan kesukaan mereka. Adapun menyelisihi orang-orang kafir adalah engkau bermaksud menyelisihi mereka pada apa yang kita dan mereka mengerjakannya tetapi mereka tidak merubahnya. Seperti sesuatu yang ditetapkan dengan ketetapan alami yang tidak berbeda antara Muslim dengan kafir, karena sesungguhnya pada ketetapan ini, tidak ada usaha dan kehendak dari makhluk. Karena yang demikian adalah sunnatullah tabarak wa ta’ala kepada manusia dan engkau tidak akan mendapati sunnatullah itu berubah. Sebagaimana telah shahih dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir rambut-rambut mereka maka selisihilah mereka (2X).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sungguh dalam hal ini seorang Mukmin mungkin menyerupai orang kafir dalam hal uban. Dan ini tidak ada perbedaannya. Engkau tidak akan menemukan seorang Muslim yang tidak beruban kecuali sangat sedikit sekali. Ada kesamaan di sini pada penampilan antara Muslim dan kafir yang sama-sama keduanya tidak bisa memiliki/mengatur sebagaimana yang kami katakan tadi. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum musyrikin, yakni dengan menyemir uban rambut-rambut kita. Sama saja rambut jenggot atau kepala. Untuk apa? Agar dengan ini tampak perbedaan antara Muslim dan kafir. Maka apa tujuannya kalau apabila seorang kafir mengerjakan suatu amalan lalu seorang Muslim ikut melakukannya dan terpengaruh dengan perbuatan-perbuatan mereka? Ini kesalahan yang lebih parah daripada menyelisihi. Dalam masalah ini, aku memperingatkannya sebelum memasuki bahasan dalam menerangkan pertanyaan yang ditujukan padaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jika telah diketahui perbedaan antara tasyabuh dengan penyelisihan maka seorang Muslim yang benar keislamannya hendaknya terus menerus berusaha menjauhi bertasyabuh dengan orang kafir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sebaliknya harus berusaha menyelisihi mereka. Dengan alasan inilah kami menyunnahkan (membiasakan) meletakkan jam tangan di tangan kanan karena mereka yang pertama kali membuat jam tangan memakainya di tangan kiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kami mengambil istinbath demikian berdasar ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Maka selisihilah mereka.” Kalian mengetahui hadits ini: “Bahwa Yahudi dan Nashara tidak menyemir rambut mereka maka selisihilah mereka.” Sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam dalam kitab tersebut (Iqtidla). Ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Maka selisihilah mereka,” merupakan hujjah yang mengisyaratkan penyelisihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang dikehendaki oleh As Sami’ul ‘Alim (Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Oleh karena itu, kami mendapati praktek penyelisihan dalam amalan dan hukum-hukum bukan termasuk wajib. Seperti makan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam atau: “Shalatlah kalian di atas sandal-sandal kalian.” “Selisihilah Yahudi (2X).” Di sini diketahui bahwasanya shalat memakai sandal bukan fardlu. Beda dengan memanjangkan jenggot, karena orang yang mencukurnya akan mendapat dosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Adapun shalat dengan bersandal itu adalah perkara yang sunnah (mustahab). Namun apabila seorang Muslim terus menerus tidak memakai sandal ketika shalat justru telah menyelisihi sunnah dan bukan menyelisihi Yahudi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Ada suatu hal yang perlu diperhatikan di sini sebagaimana dalam riwayat sikap tawadlu Ibnu Mas’ud ketika beliau mempersilakan Abu Musa Al Asy’ari mengimami shalat waktu itu. Padahal kedudukan Ibnu Mas’ud lebih utama dari Abu Musa radliyallahu 'anhu. Pada waktu itu Abu Musa Al Asy’ari melepas sandalnya dan segera ditegur dengan keras oleh Ibnu Mas’ud: “Bukankah ini perbuatan orang-orang Yahudi? Apakah kau menganggap dirimu ada di lembah Thursina yang disucikan?” Ucapan Ibnu Mas’ud ini menegaskan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Shalatlah di atas sandal kalian dan selisihilah Yahudi!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Apabila dua hakikat ini telah dipahami yaitu (larangan) tasyabuh dan (perintah) menyelisihi kaum musyrikin maka wajib bagi kita untuk menjauhi setiap perilaku kesyirikan dan segala bentuk kekufuran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalaupun mereka menyusuri atau masuk ke lubang biawak niscaya kalian pun akan memasukinya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Berita dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ini mengandung peringatan bagi umat ini. Namun di samping itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga mengatakan dalam hadits mutawatir: “Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan Al Haq. Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jadi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam itu telah memberikan khabar gembira dalam hadits shahih ini bahwasanya umat ini terus dalam keadaan baik. Tatkala datang berita ini, yaitu: “Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan sebelum kalian.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memaksudkan dalam hadits ini setiap individu dalam umatnya akan mengikuti jalan orang-orang kafir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka ucapan itu bermakna peringatan artinya: “Hati-hati kalian, jangan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian. Dan sesungguhnya akan ada dari kalian orang-orang yang melakukannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam riwayat lain selain riwayat As Shahihain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan perbuatan orang Yahudi pada tingkat yang sangat parah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda (dalam riwayat itu): “Bahkan ada dari mereka (Yahudi) orang yang mendatangi (menzinahi) ibunya di tengah-tengah jalan dan niscaya akan ada pula dari kalian yang akan melakukanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kecenderungan pada jaman ini telah membuktikan kebenaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut walaupun masih perlu adanya penelitian yang lebih mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan pada sebagian hadits-hadits yang telah tsabit, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada di antara manusia bersetubuh seperti bersetubuhnya keledai di jalan-jalan.” Ini adalah puncak kejelekan tasyabuh terhadap orang-orang kafir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Apabila kalian telah mengetahui larangan bertasyabuh dan perintah untuk menyelisihi (orang-orang kafir) maka kembali kepada permasalahan demonstrasi (unjuk rasa), kita saksikan dengan mata kepala sendiri saat Perancis menguasai Suriah dan apa yang terjadi di Aljazair. Di sana terdapat kesesatan dan tasyabuh dengan turut sertanya para wanita dalam demonstrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demikian itu merupakan kesempurnaan tasyabuh terhadap orang kafir baik laki-laki atau perempuan. Karena kita melihat melalui foto-foto, berita lewat radio, dan televisi atau selainnya tentang keluarnya beribu-ribu manusia dari kalangan orang-orang kafir Afrika maupun Syiria dan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Menurut ungkapan orang-orang Syam, keluarga laki-laki dan wanita dalam keadaan “meleit temkit”. Meleit temkit maksudnya mereka berdesakan antara punggung dengan punggung, atau pinggul dengan pinggul, dan lain-lain. Saya katakan dari segi yang lain (yang berhubungan dengan demonstrasi): Bahwasanya demonstrasi ini menunjukkan sikap taklid terhadap orang-orang kafir dalam rangka menolak undang-undang yang ditetapkan oleh hakim-hakim mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demonstrasi ala Eropa dengan sikap taklidiyah (ikut-ikutan) dari kalangan kaum Muslimin bukan termasuk cara yang syar’i untuk memperbaiki hukum dan keadaan masyarakat. Dari sini setiap jamaah hizbiyah kelompok Islam jelas telah melakukan kekeliruan besar karena tidak menelusuri jalan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di dalam merubah keadaan masyarakat. Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak, dan demonstrasi (unjuk rasa).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Islam mengajarkan ketenangan dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum Muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan ini saya katakan dengan ringkas, demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi di sebagian negara Islam pada asalnya adalah penyimpangan dari jalan kaum Mukminin[6] dan tasyabuh (menyerupai) golongan kafir. Sungguh Allah telah berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Penanya: “Mereka –para demonstran– berdalih dengan dalil Sirah (sejarah Nabi) bahwasanya setelah Umar radliyallahu ‘anhu masuk Islam, kaum Muslimin (serentak) keluar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Umar pada suatu barisan sedang Hamzah di barisan lain. Maka mereka (yang pro demonstrasi) mengatakan unjuk rasa ini untuk mengingkari taghut-taghut dan orang kafir Quraisy. Bagaimanakah jawaban Anda dengan dalil semacam ini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jawab: Jawaban terhadap pendalilan semcam itu adalah: Berapa kali aksi demonstrasi ini terjadi pada masyarakat Islam (dulu)? Hanya satu kali. Padahal sirah termasuk sunnah yang diikuti, menurut ulama fiqih. Mereka mengatakan kalau tsabit dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam suatu ibadah yang disyariatkan akan diberi pahala orang yang melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dan dalam pelaksanaannya pun tidak boleh terus-menerus tanpa putus karena dikhawatirkan menyerupai perkara wajib dengan sebab lamanya waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kebanyakan manusia –menurut adat mereka– kalau ada salah satu Muslim meninggalkan sunnah seperti ini niscaya akan diingkari dengan keras. Demikian menurut para ahli fiqih. Maka bagaimana kalau ada suatu peristiwa yang sekilas terjadi pada waktu tertentu seperti disebutkan di dalam sirah di atas kemudian dijadikan sunnah yang diikuti bahkan dijadikan hujjah untuk mendukung apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir secara terus-menerus sedangkan kaum Muslimin tidak secara mutlak melakukannya kecuali pada saat itu saja[7].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kita mengetahui kebanyakan pemerintahan mempunyai hukum-hukum yang keluar dari Islam dan kadang-kadang manusia dipenjarakan dengan dhalim dan melampaui batas, maka bagaimana sikap kaum Muslimin dalam hal ini? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memerintahkan dalam hadits yang shahih wajibnya taat kepada pemerintah walaupun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Namun kenyataannya demonstrasi bukan ketaatan kepada pemerintah seperti yang digariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Inilah yang aku khawatirkan tentang apa yang dinamakan “kebangkitan (shahwah) suara kebenaran”, bagaimana kita akan meridlainya? Bagaimana mungkin suatu “kebangkitan (shahwah)” dengan perasaan, bukan dengan ilmu? Padahal ilmu itulah yang menjadikan perkara itu dianggap baik atau buruk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tidak diragukan lagi di Aljazair dan di setiap negara Islam, shahwah ini lahir dari pemuda Muslim setelah mereka “bangun dari tidur”. Akan tetapi engkau akan melihat mereka berjalan di atas jalan yang menunjukkan ketidakgigihan mereka dalam menuntut ilmu Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kita tidak memperpanjang pembahasan. Cukuplah kita katakan pengambilan mereka terhadap dalil ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap fiqih Islam sebagaimana yang kami telah isyaratkan di depan. Kejadian yang sesaat ini terbetik pada diri saya dan saya teringat bahwa kejadian ini tercatat dalam sirah. Akan tetapi saya belum bisa mendapati shahih atau tidaknya saat ini. Jika riwayat ini shahih sanadnya maka dan ada salah seorang di antara kalian mendapati riwayat ini pada kitab-kitab hadits standar, tolong ingatkan saya. Sehingga saya bisa memeriksa barangkali riwayat tentang demonstrasi dalam sirah tersebut shahih. Maka kalaupun shahih, hanya dilakukan sekali saja. Jika terjadi hanya sekali saja, tentu tidak bisa dijadikan sunnah. Apalagi bila demonstrasi saat ini lebih sering dilakukan oleh orang-orang kafir yang seharusnya kaum Muslimin menyelisihinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kejadian ini dilakukan oleh orang-orang kafir kemudian kita mengikutinya. Ulama Hanafiyah telah membuat pijakan di dalam masalah fiqhiyah bahwasanya ada suatu masalah yang merupakan sunnah Muhammadiyah yang tidak sepantasnya ditinggalkan, yaitu sunnah membaca surat Sajadah pada pagi hari Jum’at (saat shalat Shubuh). Ini terdapat dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim). Walaupun demikian ulama Hanafiyah menganjurkan pada imam-imam masjid agar sesekali meninggalkannya, dikhawatirkan apabila terus menerus diamalkan di kalangan orang awam, akan menganggkat hukumnya keluar dari hukum asalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kami mempunyai bukti yang mendukung ketelitian dalam fiqih dan pemahaman terhadap sunnah ini. Saya sangat ingat bahwasanya imam di masjid besar Damaskus, yaitu masjid Bani Umayah, mengimami shalat shubuh di masjid tersebut dan dia tidak membaca surat Sajadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Baru saja imam salam, tiba-tiba mereka membentak dan mendatangi imam tersebut seraya berkata: “Kenapa engkau tidak membaca surat Sajadah?” Kemudian dia menerangkan bahwa hal itu adalah sunnah dan kadang-kadang dianjurkan untuk meninggalkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kejadian ini terjadi karena imam masjid mengamalkan amalan tersebut secara terus-menerus dan berlangsung lama. Dan saat itu ia tidak mengerjakan amalan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Lebih aneh lagi yang terjadi pada diri saya. Pada suatu hari saya berada dalam perjalanan dari Damaskus kira-kira 60 km ke Madhaya. Maka aku hampir di pagi hari Jum’at untuk shalat berjamaah bersama kaum Muslimin di sana. Tatkala itu imam tidak datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka mereka mencari pengganti imam yang cocok. Mereka tidak mendapati pengganti kecuali saya. Pada waktu itu saya masih muda dan jenggot saya baru tumbuh. Dalam keadaan bingung, mereka menyuruh saya maju. Saya sebenarnya belum hafal surat Sajadah dengan baik maka aku membaca surat Maryam. Aku membaca dua halaman awal. Tatkala aku takbir untuk ruku maka aku merasakan semua makmum malah sujud. Ini menunjukkan karena apa? Karena adat kebiasaan (yakni mereka sujud tilawah karena kebiasaan dan bukan dengan ilmu, ed.).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Seyogyanya para imam menjaga keadaan masyarakatnya agar tidak ghuluw (berlebihan) pada sebagian hukum-hukum. Lalu memberi penjelasan bahwa masalah syariat, wajib untuk diambil dengan tanpa sikap keterlaluan hingga mengangkat derajat hukum sunnah menjadi wajib dan sebaliknya yang wajib menjadi sunnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Semua ini adalah ifrath dan tafrith yang tidak diperbolehkan. Inilah jawaban saya terhadap pendalilan (riwayat Umar di atas) yang menunjukkan atas kebodohan orang yang mengambil dalil dengannya. ] (Kaset Fatawa Jeddah nomor 89880, pagi Shubuh, hari Ahad, 27 Jumadil Akhir 1410 H)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;BANTAHAN TERHADAP SYUBHAT ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Di awal sudah saya singgung masalah manhaj Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap pemerintah Muslimin. Yaitu bolehnya memakai demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil riwayat Umar radliyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas. Dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa beliau belum tahu shahih dan dlaifnya riwayat tersebut. Syaikh Abdul Aziz bin Bazz telah membantah syubhat Abdurrahman Abdul Khaliq dalam surat menyurat antara beliau dengan Abdurrahman Abdul Khaliq. Kata Syaikh bin Bazz: “Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minas Siyasah As Syar’iyyah halaman 31-32 bahwasanya termasuk dari uslub (metode) dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah demonstrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Aku belum pernah mengetahui nash yang sharih dalam masalah ini. Maka aku mengharap faidah dari siapa kamu mengambil dan dari kitab mana kamu dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya maka kamu wajib untuk rujuk (kembali/bertaubat) dari hal itu. Karena aku tidak tahu sama sekali nash-nash yang menunjukkan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan menggunakan demonstrasi atau unjuk rasa justru mengakibatkan banyak kerusakan. Jika nash (dalil) itu shahih maka kamu harus menerangkan dengan jelas dan sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerusakan tidak berdalih dengannya dalam demonstrasi-demonstrasi mereka yang bathil.” (Tanbihat wa Ta’biqat halaman 41)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jawaban Abdurrahman Abdul Khaliq: “Adapun ucapanku pada kitab Al Fushul Minas Siyasah As Syar’iyyah fi Da’wah Ilallah halaman 31-33 maka aku katakan: Aku telah menyebutkan demonstrasi-demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (metode) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam menampakkan dakwah Islam, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa setelah masuk Islamnya Umar radliyallahu ‘anhu, kaum Muslimin keluar karena perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada dua shaf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dalam satu barisan terdapat Hamzah radliyallahu ‘anhu, sedang barisan yang lain ada Umar bin Al Khattab radliyallahu ‘anhu beserta kaum Muslimin.” (Kemudian Abdurrahman Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah 1/40 dengan sanad sampai ke Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu, Ibnu Abi Syaibah dalam As Shahabah 2/512, dan di dalam Tarikh-nya serta Al Bazar).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kemudian dia (Abdurrahman Abdul Khaliq) berkata: “Tetapi setelah kedatangan surat Anda (Syaikh bin Bazz) aku dapatkan bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits.” Demikian pernyataan Abdurrahman Abdul Khaliq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tapi anehnya setelah itu dia mengatakan: “Aku berpandangan metode ini (demonstrasi) bisa untuk dijadikan metode yang benar dalam mendorong/menganjurkan manusia dalam shalat Jum’at dan jamaah … dalam rangka menampakkan banyaknya orang Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demikian juga memamerkan tentara-tentara Islam bersamaan dengan peralatan perang karena hal ini dapat menaklukan hati-hati musuh dan menakuti musuh-musuh Allah serta meninggikan syariat Islam.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Demikian cara Ahlul Bid’ah. Setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan dan setelah ucapan atau perbuatannya diketahui tidak benar bahkan palsu maka mereka tidak mau merujuk kepada dalil yang shahih dan manhaj yang benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bahkan dia berkelit: “Maksud saya demikian, maksud saya demikian”, “boleh saja hadits lemah –dalam hal ini palsu– dijadikan i’tibar”, dan berbagai silat lidah lainnya pun meluncur tajam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Maka saya katakan, setelah atsarnya diketahui mungkar karena adanya rawi yang mungkarul hadits pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak bisa dijadikan manhaj amar ma’ruf nahi mungkar. Karena metode dakwah adalah tauqifiyah, yakni harus sesuai dengan metode Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jikalau kisah Umar itu shahih, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syaikh Al Albani. Dengan telah diketahui atsarnya dlaif bahkan mungkar, maka tidak bisa lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya demonstrasi, sekalipun niatnya baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syaikh bin Bazz di atas. Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN PADA ACARA UNJUK RASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Di atas sudah diterangkan sebagian kemungkaran pada acara demo yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Bentuk tasyabuh dengan orang-orang kafir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Termasuk khuruj (menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain. (Lihat Nasehati)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Menceritakan aib pemerintah di depan umum dalam bentuk orasi-orasi yang ini pun dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. (Lihat Nasehati)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan) bahkan berdesak-desakan. (Lihat SALAFY rubrik Ahkam edisi 4 tahun pertama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Tindak anarkis yang seringkali timbul ke sana atau setelah demonstrasi dan orasi-orasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;- Dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;SOLUSI DARI KRISIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada situasi sekarang, masalah yang timbul bukan saja terjadi akibat satu aspek, misalnya ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tetapi juga terkait pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan krisis ini tidak bisa sembuh total manakala dibasmi dengan kebathilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Suatu negara yang dipimpin oleh pemimpin yang dhalim yang di dalamnya ditaburi praktek-praktek kolusi, korupsi, dan nepotisme merupakan buah dari tindakan rakyatnya juga. Maka kalau rakyatnya baik, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang arif dan bijaksana. Hal ini sudah dibuktikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Khulafaur Rasyidin. Situasi yang kacau balau ini solusinya bukan dengan demonstrasi tetapi dengan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian menyebarkan ilmu yang haq di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang berbekal ilmu. Akhirnya diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan diukur dengan ilmu syar’i yang haq. Dengan demikian akan musnahlah virus kolusi, korupsi, dan virus-virus lainnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;==============================&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[1] Seperti pendapatnya Abdurrahman Abdul Khaliq dan konco-konconya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[2] Orang yang bergabung dengannya disebut golongan (firqah) Saba’iyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[3] Mirdas bin Udayah adalah seorang Khawarij. Lihat Tahdzibul Kamal oleh Imam Al Mizzi 7/399.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[4] Mukhtashar Shahih Muslim, ta’liq Syaikh Al Albani nomor 335.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[5] Salah satu aliran dari aliran-aliran Khawarij.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[6] Shahabat, ed.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;[7] Ini bukti bahwa para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan seterusnya tidak mengambil kejadian itu sebagai sunnah dalam rangka mengingkari pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;(sumber: Tulisan Ustadz Zuhair Syarif, SALAFY XXVII/1419/1998/MABHATS)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6727813200603545971-3832100710412044439?l=mohamadlutfi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/feeds/3832100710412044439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6727813200603545971&amp;postID=3832100710412044439&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/3832100710412044439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/3832100710412044439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/2008/05/demonstrasi-bukan-metode-salafush.html' title='Demonstrasi bukan Metode Salafush Shaleh'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971.post-6225174988543476990</id><published>2008-05-07T08:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T08:03:23.456-07:00</updated><title type='text'>Para Ulama Ahlul Hadits</title><content type='html'>&lt;h2 class="storytitle" id="post-3"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/30/para-ulama-ahlul-hadist/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Para Ulama Ahlul Hadits"&gt;Para Ulama Ahlul Hadits&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;div class="storycontent"&gt; &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; color: black;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;1. &lt;span&gt;Khalifah ar-Rasyidin &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a title="gray" href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=27"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Bakr Ash-Shiddiq&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=46"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Umar bin Al-Khaththab&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=74"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Utsman bin Affan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=53"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;2. &lt;span&gt;Al-Abadillah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=77"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Umar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=35"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Abbas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=43"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Az-Zubair&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=80"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Amr&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=54"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Mas’ud&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=57"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Aisyah binti Abubakar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=58"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ummu Salamah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=59"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Zainab bint Jahsy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=60"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Anas bin Malik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=73"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Zaid bin Tsabit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=242"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Hurairah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=295"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Jabir bin Abdillah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=298"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Sa’id Al-Khudri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=61"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Mu’adz bin Jabal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=301"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Dzarr al-Ghifari&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style';"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=302"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Sa’ad bin Abi Waqqash&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;• &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=299"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Darda’&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;3. &lt;span&gt;Para Tabi’in :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=47"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=56"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Urwah bin Zubair wafat 99 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=315"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Sa’id bin Jubair wafat 95 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=75"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=63"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=322"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=323"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=23"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=44"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=67"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Sirin wafat 110 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=42"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=300"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=303"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=349"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ikrimah wafat 105 H&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=350"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Asy Sya’by wafat 104 H&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=351"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=352"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Aqamah wafat 62 H&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;4. &lt;span&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;span&gt; Tabi’ut tabi’in :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=39"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Malik bin Anas wafat 179 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=62"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Auza’i wafat 157 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=64"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=316"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Sufyan bin Uyainah wafat 193 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=317"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=353"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=38"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150  H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;5. &lt;span&gt;Atba’ Tabi’it Tabi’in :&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p="&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: black;"&gt;Setelah para tabi’ut tabi’in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;:&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=68"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=325"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=326"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=324"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=20"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Imam Syafi’i wafat 204 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;6. &lt;span&gt;Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=16"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ahmad bin Hambal wafat 241 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=329"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Yahya bin Ma’in wafat 233 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=327"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ali bin Al-Madini wafat 234 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=330"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=345"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Rahawaih Wafat 238 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=346"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Qutaibah Wafat 236 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;7. &lt;span&gt;Kemudian murid-muridnya seperti:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=389"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Bukhari wafat 256 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=390"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muslim wafat 271 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=338"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Majah wafat 273 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=331"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Hatim wafat 277 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=332"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Zur’ah wafat 264 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=37"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abu Dawud : wafat 275 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=69"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;At-Tirmidzi wafat 279&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=71"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;An Nasa’i wafat 234 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;8. &lt;span&gt;Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=333"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=334"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Khuzaimah wafat 311 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=354"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=335"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ad-Daruquthni wafat 385 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=48"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ath-Thahawi wafat 321 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=33"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Ajurri wafat 360 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=343"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Hibban wafat 342 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=344"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ath Thabarany wafat 360 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=339"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=79"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Lalika’i wafat 416 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=72"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Baihaqi wafat 458 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=348"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=45"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;9. &lt;span&gt;Murid-Murid Mereka :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com/?p=319" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=41"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Taimiyah wafat 728 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: teal;"&gt;Al-Mizzi wafat 742 H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=321"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=34"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=78"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ibnu Katsir wafat 774 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: teal;"&gt;Asy-Syathibi wafat 790 H&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=385"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style';"&gt;Ibnu Rajab wafat 795 H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;10. &lt;span&gt;Ulama Generasi Akhir :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;•&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=391"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt; Ash-Shan’ani wafat 1182 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=17"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=13"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: teal;"&gt;Al-Mubarakfuri wafat 1353 H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=52"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=19"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Ahmad Syakir wafat 1377 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=8"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=18"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=11"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=22"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=340"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Hammad Al-Anshari wafat 1418 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=10"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=50"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad Al-Jami wafat 1416 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=7"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=55"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=9"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=32"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: black;"&gt;&lt;br /&gt;• &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Goudy Old Style'; color: maroon;"&gt;&lt;a href="http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=21"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: maroon;"&gt;Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 153);"&gt;Sumber:  Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6727813200603545971-6225174988543476990?l=mohamadlutfi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/feeds/6225174988543476990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6727813200603545971&amp;postID=6225174988543476990&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/6225174988543476990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/6225174988543476990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/2008/05/para-ulama-ahlul-hadits.html' title='Para Ulama Ahlul Hadits'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971.post-4794832968170707482</id><published>2008-05-05T01:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T08:30:15.949-07:00</updated><title type='text'>Insya Allah Kukuh di Manhaj Salaf</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Untuk istri dan anak-anakku, aku cukupkan pencarian manhaj (metodologi) dalam memahami islam. Cukuplah mengeksplorasi islam dengan pisau bedah salafy. Gunakan nalar untuk memahami dalil yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan ulama-ulama shalih sebelumnya (salafush shalih). &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pasang surut pencarian makna kehidupan dimulai dari keluarga yang memiliki pemahaman yang berbeda. Almarhum ayah saya lebih cenderung ke pemahaman Muhammadiyah, sementara ibu dibesarkan dari keluarga yang mengamalkan ajaran Nadhlatul Ulama. Menamatkan Sekolah Dasar di Sekolah Islam dan sorenya khusus mengikuti pelajaran agama islam di madrasah. Setelah itu, melanjutkan pendidikan umum sampai jenjang master. Setelah menyelesaikan program S2 di keilmuan umum, ada kehampaan di diri saya. Yang biasanya disibukkan dengan buku-buku literatur, tugas-tugas akademis, persiapan makalah seminar, dll, tiba-tiba lenyap. Sulit untuk merubah ritme waktu yang sebelumnya sudah tersetup&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;secara alamiah. Untuk mengisi kekosongan tersebut, saya mencoba mengalihkan dengan banyak membaca literatur-literatur umum dan agama, menghadiri dan menjadi pembicara di seminar-seminar, dan ikut di organisasi kajian-kajian islam, hingga akhirnya insya allah telah dibukakan hidayah &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;untuk menemukan alfirqatun najiyah (jalan orang-orang yang selamat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dekat dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Faktor lingkungan menyeret saya ke pemahaman islam yang lebih berorientasi kepada TBC.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Tak bisa disanggah bahwa realitas sosial budaya di Indonesia menunjukkan bahwa proses penyebaran agama islam di Indonesia adalah melalui proses asimilasi dengan aliran-aliran lain. Semakin bertambahnya umur yang tentunya berimplikasi kepada peningkatan kapasitas otak dalam mencerna, semakin saya merasa bahwa bukan pemahaman islam seperti ini yang saya inginkan. Sulit bagi saya untuk bisa memahami syariat-syariat yang tidak masuk akal, ibadah-ibadah yang tidak mengacu kepada dalil-dalil yang sahih, ritual-ritual yang berasal dari mimpi-mimpi para ulama, dan ajaran-ajaran yang dilesakkan oleh para kyai dengan hanya mengacu pada satu kitab yang ”katanya” bersandar kepada mazhab Imam Syafii, namun saat dicek dengan literatur lain yang lebih sahih ternyata Imam Syafii tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Inilah titik awal timbulnya keinginan untuk mempelajari manhaj (metodologi)&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;yang lurus, benar, bisa dicerna akal dan tidak menimbulkan keraguan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bersentuhan dengan pemahaman Liberal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lingkungan pergaulan di Jakarta ditambah dengan maraknya buku-buku liberal memancing keingintahuan saya. Luar biasa !!! Itulah komentar pertama saya terhadap buku-buku liberal, darinya saya &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;menemukan pemahaman baru yang menarik. Bahkan saya saat itu memfasilitasi untuk mengundang Almarhum Nurcholish Madjid untuk menjadi pembicara di acara Lustrum di kampus saya. Kurang lebih sampai 3 tahun saya tenggelam di pemahaman liberal dengan banyak membaca buku-bukunya. Beberapa buku-buku yang saat itu sangat saya kagumi, antara lain ’Menafsirkan kehendak Tuhan’, ’Pintu-Pintu menuju surga’, ’Hermeunetika Al Qur’an’, ’Doktrin Islam Liberal’, dll, disamping majalah-majalah, kajian-kajian dan literatur-literatur liberal (Semuanya telah saya robek-robek dan musnahkan karena khawatir akan terbaca oleh orang lain). Jujur saja, bahasa yang dipergunakan sangatlah indah, terstruktur, metodologis, dan masuk akal. Namun semakin jauh saya menyelam, semakin jauh saya mengeksplorasi, dan semakin jauh saya mencoba mencari esensinya, semakin pula saya merasa banyak kejanggalan-kejanggalan dan tidak mendapatkan apa-apa. Tak ada yang sesuatu baru, kecuali hal-hal yang lama diwacana ulang dengan pemahaman baru yang relatif, demikian seterusnya seolah-olah pemahaman tidaklah pernah berujung, melainkan dibatasi oleh ruang situasi dan waktu &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;yang kontemporer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengikuti pengajian dengan pemahaman khilafah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pemahaman tentang perlunya khilafah adalah tesis segar yang mengurai kemunduran umat islam dengan bukti-bukti empiris bahwa penyebabnya adalah sistem kapitalisme yang saat ini menguasai dunia. Tidak terbantahkan bahwa perlunya sistem alternatif yang tidak mengekor kepada mainstream, yaitu melalui sistem islam dan adanya khilafah yang akan menjamin syariat islam akan tetap ditegakkan.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Namun kembali kejenuhan melanda, selama saya mengikuti pengajian ini tidak pernah secara jelas atau bahkan tersamar sekalipun solusi yang ditawarkan, kecuali solusi tunggal perlunya khilafah. Akhirnya saya meninggalkan pengajian ini karena saat kajian seringkali diisi dengan pembangkangan dan hujatan terhadap pemerintah, anjuran untuk berdemo, dan saya merasa bahwa tidak ada perubahan pada akidah dan keimanan saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kembali ke musholla.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kembali ke musholla di dekat rumah saya untuk mengikuti shalat berjamaah dan kajian-kajian islam. Saya terus berusaha untuk konsisten menjalankan shalat Maghrib, Isya dan Subuh berjamaah di musholla meskipun ada beberapa benturan pemahaman, terutama yang berkaitan dengan pemahaman jihad, yang menurut saya berlebihan. Pada saat itu di Indonesia marak pengeboman atas nama islam. Sulit bagi nalar saya untuk menerima dalam setiap diskusi dengan orang yang menyetujui tindakan mereka dengan dalih jihad terhadap kesombongan barat namun yang menjadi korban adalah orang-orang islam juga. Pintu hidayah akhirnya terbuka di musholla ini. Dimulai dengan pengisian majelis ilmu oleh ustadz baru dengan manhaj salaf. Kesederhanaannya menutupi saratnya ilmu yang dia miliki. Di awal-awal kajian, saya (dan juga jamaah yang lain) menanyakan berbagai macam permasalahan dari berbagai variasi pemahaman jamaah saat itu. Ketenangannya dalam menjawab dengan dilandasi oleh dalil-dalil yang sahih sehingga nalar mampu mencerna dan menerima pendekatannya. Semakin sering mengikuti kajian-kajiannya, semakin saya merasakan kenyamanan dalam beribadah, semakin yakin dengan jalan yang saya tempuh, dan semakin nalar ini menerima metodologinya dalam memahami islam. Akal dioptimalkan untuk membenarkan dalil melalui manhaj (metodologi) salaf, yaitu &lt;i&gt;memahami dalil yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan ulama-ulama shalih sebelumnya (salafush shalih).&lt;/i&gt; Metodologi yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;sangat &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;sulit untuk terbantahkan dari sisi akademis metodologi penelitian ilmiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Beragam Reaksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Beragam reaksi bagi dari kerabat maupun teman saya saat saya katakan bahwa pencarian saya terhadap manhaj (metodologi) dalam memahami islam sudah final. Beberapa pertanyaan dan argumentasi yang&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;mereka sampaikan, antara lain : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya telah mendoktrin keluarga saya secara kaku, tidak memberi ruang kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya, tidak mencoba memberikan ruang komparasi terhadap pemahaman lain, dan menyesalkan arogansi saya bahwa kebenaran seolah-olah hanya kepada pemahaman yang ada di benak saya sekarang. Saya jawab bahwa saya ingin memberikan pemahaman yang benar terhadap keluarga saya terlebih dahulu sebelum masuk ke lingkungan yang lebih luas, karena saya menginginkan paling tidak di lingkungan keluarga saya selamat dari ancaman siksa neraka. Saya ingin menggiring mereka ke jalan yang orang-orang yang selamat (firqatun najiyah). Saya katakan tidak benar bahwa saya membatasi argumentasi, tidak benar bahwa saya arogan merasa benar sendiri, dan tidak benar pula bahwa saya merasa bahwa sayalah yang menentukan jalan yang harus mereka ambil. Kewajiban saya untuk mempersiapkan koridor awal sebagai benteng akidah mereka ketimbang mereka harus liar mencari-cari pemahaman tanpa modal pemahaman sebelumnya. Saya katakan kepada teman-teman saya yang liberal, bahwa bohong besar kalau dikatakan bahwa harus melepaskan atribut-atribut tertentu agar keluarga bisa mensintesis suatu kebenaran yang hakiki (kalaupun benar hanya ada di teori yang tidak pernah terbukti di dunia nyata). Yang saya lakukan adalah hal yang manusiawi, dimana insting semua manusia akan melakukan hal yang sama dengan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya telah mendoktrin keluarga dengan surga dan neraka. Penyair-penyair sufi menyatakan bahwa jika ”surga dan neraka tak pernah ada, apakah kita akan tetap bersujud padanya”. Saya katakan ya, karena saya tidak akan menafikan banyaknya ayat-ayat Al Qur’an yang terkait dengan surga dan neraka, dan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;surga dan neraka sudah pasti ada. Jadi tidaklah produktif kita berdebat dengan mengandaikan bahwa surga dan neraka tidak ada. Kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah sebagai manifestasi dari penghambaan kita yang dhaif. Hak kita untuk mendapatkan surga setelah menjalankan kewajiban yang disyariatkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Adalah hak Allah untuk menentukan mana yang hak dan mana yang batil, sehingga kita tidak bisa mengklaim diri sebagai yang paling benar. Saya katakan ya, namun Allah juga telah menetapkan koridor-koridornya. Untuk itulah Allah menurunkan nabi untuk membuat standarisasi syariat yang harus dipatuhi oleh manusia yang mengaku muslim. Namun sulit pula untuk dipungkiri bahwa seringkali terjadi salah paham terhadap hal ini sehingga seringkali muncul pertanyaan yang terkadang konyol padahal sebenarnya mencerminkan kualitas kelimuannya. Sebagai contoh, pertanyaan tentang pemahaman masalah bid’ah sebagai berikut : Kalau begitu kita sekarang naik haji harus naik unta karena naik pesawat adalah bid’ah karena tidak pernah dilakukan oleh nabi. Pertanyaan tersebut jelas mencerminkan ketidaktahuan dalam membedakan hal-hal yang terkait dengan ibadah dan muamalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya menafikan penafsiran yang mestinya berkembang dinamis, dan berusaha kembali ke kehidupan di jaman lampau. Saya katakan penafsiran (penakwilan) menjadi liar tanpa mempertimbangkan bagaimana ulama-ulama shalih sebelumnya membuat penafsiran. Lebih pintar atau lebih tahukah kita yang hidup sekarang ini ketimbang mereka sehingga membuat penafsiran baru yang &lt;i&gt;letterlux&lt;/i&gt; dari ayat Al Qur’an tanpa melihat bagaimana Sunnah dan sebab-sebab turunnya ayat tersebut. Saya akan menggunakan referensi dan pendapat Ibnu Taimiyah, imam empat mazhab, Syeikh Nasiruddin Al Albany, Syeikh Utsaimin, Syeikh Bin Baz, dan ulama-ulama salafy di seluruh dunia. Sebaliknya, saya tidak akan menjadikan referensi pendapat-pendapat Fazlur Rahman, Muhammad Abduh,&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Nurcholish Madjid, Ulil Abshar Abdalla, Abdurrahman Wahid, pendapat-pendapat yang ingkar sunnah, dan pendapat-pendapat yang muncul karena penakwilan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Wallahu alam bish shawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6727813200603545971-4794832968170707482?l=mohamadlutfi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/4794832968170707482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/4794832968170707482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/2008/05/insya-allah-kukuh-di-manhaj-salafy.html' title='Insya Allah Kukuh di Manhaj Salaf'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971.post-3410828302034525294</id><published>2007-05-15T20:54:00.000-07:00</published><updated>2007-05-16T01:14:23.708-07:00</updated><title type='text'>Kisah Sebuah Sumur</title><content type='html'>Di kampung saya ada sebuah sumur tua yang tertimbun tanah dan ditanami sebuah pohon pisang yang batang dan akarnya didalam sumur sementara daunnya menjulur ke luar mulut sumur. Lebaran tahun lalu, pada saat pulang kampung saya, anak saya yang pertama umur 5 tahun, dan beberapa keponakan yang sebaya dengan anak saya mengunjungi sumur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menceritakan kisah sumur itu, saya bertanya kepada anak dan keponakan saya. Apa kira-kira maksud dibuatnya sumur dan kenapa sumur itu tertimbun tanah dan ditanami pohon pisang. Jawaban dari mereka bervariasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban untuk maksud dibuatnya sumur :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Untuk air minum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk mandi dan mencuci &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk menyiram tumbuh-tumbuhan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk piara ikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dan lain-lain&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Jawaban untuk kenapa sumur itu tertimbun :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sumur kering &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Supaya bisa menanam pohon pisang (maklum jawaban anak-anak)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumur ada setannya (Untuk jawaban ini, saya tegaskan bahwa setan bisa ada dimana-mana. Kalau dia ada di sumur itu, maka dia sedang istirahat dari tugasnya menggoda manusia. Intinya adalah bahwa setan tidak akan tertarik untuk mendiami tempat seperti itu, mereka lebih menyukai tugasnya untuk menjerumuskan manusia)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada monster (kebanyakan nonton film kartun kayaknya)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dan lain-lain&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Setelah mereka keluarkan semua jawaban berdasarkan kemampuannya berfikir, analisis lingkungan sekitarnya, atau hanya sekedar menjawab, saya katakan bahwa sayapun dikasih tahu oleh ayah saya bahwa sumur itu dibuat dan digunakan untuk mengubur orang-orang PKI. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah ini adalah salah satu contoh bahwa untuk mengetahui sesuatu, kita tidak bisa dengan hanya mengandalkan logika. Mengetahui dari orang yang langsung berinteraksi dengan kejadian tersebut tentunya akan lebih valid. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya coba analogikan, kita akan lebih mendapatkan akurasi dalam memahami islam jika kita mendapatkan langsung informasi itu dari orang-orang generasi pertama, yaitu yang berinteraksi langsung dengan Nabi Muhammad SAW, kemudian generasi kedua yang berinteraksi dengan generasi pertama, dst, dst. Prasyaratnya adalah kejujuran dalam menyampaikan kabar berita. Alhamdulillah, bahwa ulama-ulama terdahulu telah menetapkan kriteria yang ketat untuk menyaring kabar berita, sehingga tingkatan sahih diberikan kepada hadist-hadist yang lolos penyaringan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah pilihan bagi kita untuk menentukan metodologi apa yang akan digunakan untuk memahami teks dalam islam. Apakah melalui riwayat-riwayat yang benar dan bisa dipercaya, ataukah dengan menerjemahkan teks dalam konteks kekinian dengan menyatakan bahwa setiap kejadian terikat dengan konteks zaman tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wallahu alam bisshawab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6727813200603545971-3410828302034525294?l=mohamadlutfi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/3410828302034525294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/3410828302034525294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/2007/05/kisah-sebuah-sumur.html' title='Kisah Sebuah Sumur'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6727813200603545971.post-6339243208163082772</id><published>2006-12-25T23:32:00.000-08:00</published><updated>2007-05-15T20:00:39.924-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Diri</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6727813200603545971-6339243208163082772?l=mohamadlutfi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/feeds/6339243208163082772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6727813200603545971&amp;postID=6339243208163082772&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/6339243208163082772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6727813200603545971/posts/default/6339243208163082772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohamadlutfi.blogspot.com/2006/12/refleksi-mohamad-lutfi.html' title='Refleksi Diri'/><author><name>Mohamad Lutfi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03992368472570827283</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
